Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 merupakan sebuah virus yang ditetapkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) sejak bulan Maret 2020 lalu. Pemerintah Indonesia pun secara tegas menetapkan status darurat nasional untuk pandemik Covid-19. Beberapa provinsi di Jawa juga melakukan pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk memutus rantai penyabaran pandemik tersebut.
Sektor-sektor di Indonesia seperti ekonomi, pariwisata, dan sektor-sektor lain terpaksa harus dibekukan aktivitas untuk beberapa saat merespon status tanggap darurat yang digaungkan oleh pemerintah. Tak terkecuali sektor transportasi domestik dan internasional pada dunia penerbangan. Jumlah penerbangan tertekan turun seiring dengan status tanggap darurat yang di tetapkan oleh Pemerintah Indonesia.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwasannya sekitar 240.000 penerbangan yang ada di dunia terpaksa harus dibatalkan pada bulan Januari hingga Februari. Jumlah tersebut dapat meningkat berkali lipat mengingkat angka 240.000 hanya angka pada bulan Junari hingga Februari.
“Penerbangan Indonesia sendiri yang tadi pagi disampaikan di dalam siding kabinet dari 79.000 sekarang tinggal 70 penerbangan. Jadi pasti semua lembaga atau perusahaan penerbangan mengalami tekanan yang luar biasa,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Ini juga serta merta memberikan dampak penurunan angka pda sektor pariwisata yang biasanya didukung oleh sektor transportasi udara. Perlu diingat sektor parawisata merupakan sektor penyumbang devisa terbesar bagi negara.
Selain itu, mengambil contoh dari salah satu airlines di Indonesia yaitu Garuda, Garuda kehilangan empat kesempatan peak season pada tahun ini. Hal tersebut jelas menggambarkan pemunculan angka kerugian pada Garuda. Garuda sendiri mencatat mengalami penurunan jumlah penumpang hingga 90 persen per Mei 2020.
“Garuda dari tahun ke tahun punya lima peak season. Di tahun 2020 ini, empat kesempatan itu sudah hilang. Yang pertama adalah ketika mudik,” ucap Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra.
Kesempatan kedua peak season Garuda adalah pada saat liburan sekolah pada Juni-Juli. Mengingat kebijakan pemerintah yang baru saja ditetapkan, hal ini tidak akan terjadi karena penerapan work from home dan school from home untuk kegiatan sekolah. Kesemptan ketiga dan keempat, Garuda kehilangan momen peak season pada saat musim Umroh dan Haji. Pada akhirnya, Garuda memiliki kesempatan mengapai peak season terakhir yakni saat libur akhir tahun.
Sumber:
https://economy.okezone.com/read/2020/05/04/20/2208923/dampak-covid-19-sri-mulyani-penerbangan-indonesia-sisa-70-dari-79-000-perjalanan
https://www.antaranews.com/berita/1563604/dampak-covid-19-garuda-kehilangan-empat-kali-peak-season#mobile-nav
